Usaha Pembibitan Ayam Kampung Selalu Kurang

pembibitan-ayam-kampungUSAHA PEMBIBITAN AYAM KAMPUNG — Popularitas usaha ternak ayam kampung pedaging kian banyak peminatnya. Hal ini seiring dengan pola budidaya ayam kampung pedaging yang sudah dilakukan secara intensif. Dengan pola ternak ayam kampung intensif ini dalam waktu 2 sampai 2.5 bulan bobot ayam kampung sudah mencapai 1 kilogram. Permintaan DOC ayam kampungpun semakin lama semakin meningkat. Bahkan para pengusaha pembibitan ayam kampung selalu kehabisan stok dalam memenuhi permintaan.

Usaha ayam kampung pedaging ini memang dikenal sebagai usaha yang tahan krisis, mengingat berbagai kebutuhan seperti pakan, bibit dan obat-obatan berasal dari bahan lokal. Sehingga meski terjadi krisis global tidak akan terimbas. Selain itu kebijakan pemerintah yang membatasi ternak ayam kampung untuk usaha kecil turut memberikan andil bagi kesejahteraan peternak kecil.

Pembibitan Ayam Kampung Terkendala Kualitas

Berbeda dengan pembibitan ayam broiler, pembibitan ayam kampung dalam skala besar terkendala oleh beberapa faktor, sehingga sulit untuk menghasilkan DOC dalam jumlah besar pada satu waktu. Menurut Benny Arifin, pemilik Jimmy Farm, saha breeding skala besar menurut dia banyak tantangannya. Risiko tinggi, tidak bisa menyepelekan kualitas karena pertaruhannya terlalu besar, dan pasti perputaran bisnisnya (return of investment/ROI) tak secepat di segmen pembesaran.

Kunci utama dalam menghasilkan bibit ayam kampung berkualitas adalah masalah indukan, hal penting untuk diperhatikan menurut Benny adalah menghindari perkawinan inbreeding atau masih dalam satu keturunan. Ini akan merusak kualitas bibit ayam kampung yang dihasilkan. Untuk menjaga kualitas ini yang dilakukan Jimmy Farm adalah berburu bibit ayam ke pelosok-pelosok tanah air.

Yang penting diperhatikan oleh pengusaha pembibitan ayam kampung adalah pengetahuan akan jenis dan kualitas ayam kampung calon bibitnya. Jenis ayam kampung di berbagai daerah berbeda-beda, keunggulan masing-masing itulah yang diambil untuk dijadikan indukan. Dari segi kualitas ia harus mampu menilai dengan melihat fisiknya. Misalnya, bentuk dada V tidak U seperti broiler dan warna khas ayam kampung. Berbagai strain dari ayam kampung itu lah yang kemudian dikawinkan silang.

Senada sengan Benny, Ade Zulkarnaen, Ketua Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia) mengatakan, selama ini peternak pembesaran ayam kampung pedaging , kerap kesulitan mempertahankan kontinuitas usahanya. Hal itu disebabkan tidak adanya pasokan DOC untuk dibudidayakan periode berikutnya. Selama menunggu antrian DOC inilah menyebabkan dana yang semestinya untuk membeli DOC habis terpakai keperluan lain dan akhirnya berhenti beternak.

Jika harus dipaksakan untuk membeli bibit ayam kampung dari peternak dan pembibit tradisional, kualitasnya tidak bisa terjamin karena tidak standard. Pembibit yang kebanyakan juga peternak tradisional masih cenderung mengabaikan kualitas. Produksinya jauh dari kaidah GBP (Good Breeding Practice). Karena itu usaha pembibitan ayam kampung harus ditingkatkan baik dari kuantitas maupun kualitasnya.

Sumber:
Majalah Trobos

Bookmark and Share

Leave a Reply

WordPress͸╠Ô

Free WordPress Theme