Ternak Ayam Kampung Ala Pak Dokter

ternak-ayam-kampungTERNAK AYAM KAMPUNG — Ayam kampung memang terus menjadi primadona bagi masyarakat perkotaan, menggantikan daging ayam broiler dan telur ayam leghorn. Hal ini karena masyarakat kota semakin memperhatikan masalah kesehatan dari makanan yang dikonsumsi. Namun disisi lain usaha peternakan ayam kampung secara intensif masih belum banyak dilakukan. Inilah yang menarik hati Djodi, seorang dokter hewan di Medan menekuni usaha ternak ayam kampung. Djodi yang sebelumnya mengelola peternakan sapi, tertarik akan potensi bisnis ternak ayam kampung.


Menurut Djodi selain menguntungkan ternak ayam kampung juga membawa masyarakat Medan dan Sumut pada umumnya dapat mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. “Bertenak ayam kampung berarti beternak lokal dengan memanfaatkan potensi yang sejak lama sudah ada. Banyak masyarakat yang memiliki ayam kampung, tapi hanya sekedar peliharaan dalam jumlah sedikit. Padahal daging ayam kampung ini sudah menjadi salah satu menu utama masyarakat kota yang mementingkan kandungan kesehatan pada makanan yang dikonsumsinya,” kata Djodi.

Tips Sederhana Ternak Ayam Kampung

Menurut Djodi, beternak ayam kampung sebenarnya tidak sulit dan tidak memerlukan modal yang besar. Semua bisa diawali dengan hal yang sederhana, Djodi menyarankan untuk masyarakat yang ingin mengembangkan beternak ayam kampung, pada awalnya bisa mencari jenis ayam kampung yang sudah cukup umur atau sekitar enam bulan. Lebih disarankan beli dua ayam (jantan dan betina). Kalau hanya sanggup beli satu cukup ayam betina saja dulu. Selanjutnya, menyiapkan kandang.

Jika belum punya modal untuk membuat kandang, untuk sementara bisa dikandangkan di dalam karung, kardus besar, atau apa saja yang bisa digunakan untuk menyimpan ayam jika malam hari.
“Kalau sudah menetas telurnya, pisahkan anak ayam dengan induknya. Biarkan induk ayam dialam bebas kembali agar bisa bertelur kembali. Pelihara anak ayam dengan intensif terpisah dengan induk. Untuk induk ayam biarkan kembali ke alam bebas, agar bisa bertemu dengan pejantan supaya bisa bertelur kembali,” jelasnya.

Untuk pakan, Djodi menyarankan membuat dari bahan baku lokal yang sebenarnya dari sisi kualitas tidak kalah, masih jarang dilirik peternak. Bahkan untuk obat perangsang makan dan pengendalian hama serta penyakit pada ayam kampung, juga harus terbuat dari bahan baku yang alami. Agar ayam kampung benar-benar sehat, bergizi dan bermanfaat bagi masyarakat yang mengonsumsinya.

“Tidak ada ruginya beternak ayam kampung. Dari indukan sampai telur nya bisa dijual. Kita siap memenuhi berapa banyak pun ayam kampung yang dibutuhkan masyarakat termasuk telur dan anakannya. Karena kita yakin masyarakat Medan akan lebih melirik makanan sehat dibandingkan impor namun tidak berkualitas,” pungkasnya

 

 

Sumber:

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/11/12/124268/tak_harus_banyak/#.UKL_JoYY3NE

Bookmark and Share

Leave a Reply

Free WordPress Themes

WordPress͸╠Ô